Melalui DKJ ChoreoLab, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berupaya menciptakan wadah (platform) bagi koreografer muda untuk mempertajam dan memperkuat karya mereka. Tahun ini, tiga koreografer muda yang terpilih untuk mengikuti program adalah Ari Ersandi (Yogyakarta) dengan karya PINTU MeNUSIa, Gintar Pramana Ginting (Jakarta) dengan karya Ndemi Ku Kita, dan Moh. Hariyanto (Surabaya) dengan karya GHULUR.

Pada 2-5 Juni lalu, ketiga koreografer muda terpilih itu sudah melalui proses lokakarya di Studio Hanafi, Depok. Bertindak sebagai fasilitator adalah pengampu Suprapto Suryodarmo, pencipta sistem gerak Amerta dan perupa Hanafi. Lawe Samagaha, seorang komposer dan juga Ines Somellera, aktor dan pengajar yoga juga diboyong ke ‘laboratorium’ untuk memberikan tambahan materi. Kemudian ketiga koreografer tersebut kembali ke kota masing-masing untuk berproses dan merespon materi dalam lokakarya. Dalam proses merespon materi, mereka ditemani oleh M.N Qomaruddin (Yogyakarta), Zen Hae (Jakarta) serta Hanafi yang khusus terbang ke Surabaya untuk mengamati proses Hariyanto.

Kembali ke Jakarta, karya terbaik mereka yang sudah diperkaya melalui lokakarya di ‘laboratorium’, mereka siap tampil dalam pentas DKJ ChoreoLab: Process-in-Progress pada Jumat, 11 September 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pukul 19.30 WIB. DKJ Choreo-Lab diadakan untuk memetakan potensi koreografer muda di Indonesia dan menjadi wadah dalam menelaah dan mengkritisi praktik koreografi masing-masingnya. Format ‘laboratorium’ yang dipilih DKJ memperlihatkan proses sebagai fokus utama, bukan produk akhir. Bagaimana koreografi dicipta dan dihadapkan pada konteks global adalah bagian penting dari proses penciptaan tari. Kreativitas ini melibatkan proses berpikir kritis yang dialektis – elemen penting yang cenderung hilang dalam praktik seni tari kontemporer Indonesia di tahun-tahun terakhir ini.

Sumber dan foto :: Press Rilis DKJ


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait