Pianis dan Komponis asal Jogjakarta, Gardika Gigih, rilis full album perdana berjudul “Nyala”. Mulai dari Senin, tanggal 6 November 2017, album ini sudah bisa dipesan melalui Sorge Records, label musik asal Bandung. “Nyala” yang berisikan 13 lagu ini merupakan hasil karya cipta Gardika Gigih sepanjang tahun 2015-2016. Semua lagu ini direkam sekali secara live di ruang seminar Koendjono, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, pada pertengahan tahun 2016.

Dalam proses pembuatan album “Nyala”, Gardika Gigih menghadirkan teman-temannya yang pawai dalam bermusik. Mereka adalah Suta Suma Pangekshi (biola), Dwi Ari Ramlan (viola), Alfian Aditya (cello), Wasis Tanata (drum), Febrian Mohammad (gitar akustik), Desti Indrawati (mezzo sopran), Nurhana Azizia Latief (sopran), Damar Sosodoro (gitar elektrik), Rara Sekar (pembaca puisi), dan Ananda Badudu (vokal).

Setiap lagu di album “Nyala” ditemani  oleh karya lukis dari Gata Mahardika. Gata secara khusus membuat karya lukis merespon nuansa dan rasa dari setiap lagu di dalam album Nyala. Proses pembuatan karya itu memakan waktu hingga setengah tahun lamanya. Sementara desain sampul dan kemasan CD Nyala dikerjakan ilustrator asal Bandung, Mufqi Hutomo. Proses rekaman serta finalisasi audio dikerjakan oleh Rekambergerak, tim audio recording di Yogyakarta.

Rilisan versi CD dijual dengan harga Rp 70 ribu, bisa didapatkan di toko-toko CD terdekat atau pesan via email ke sorgerecords@gmail.com. Album Nyala juga tersedia di gerai digital seperti spotify, itunes, deezer, apple music, dll.

Tentang Gardika Gigih

Gardika Gigih adalah seorang komponis dan pianis lulusan ISI Yogyakarta. Ia belajar keyboard sejak SD dan mulai memainkan piano sejak SMA. Sejak di bangku kuliah, Gigih mulai belajar membuat komposisi musik. Gigih pernah berkolaborasi dengan Banda Neira dalam konser Kita Sama-sama Suka Hujan (2015) dan juga dalam pembuatan album Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti (2016).

 


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait