kuartet indierock/post-punk eklektik Jirapah kembali hadir dengan sebuah single terbaru berjudul “Menjamur”. “Menjamur” menjadi materi pertama Jirapah sejak merilis album mini Bits pada 2015 silam. Selain itu, nomor bertempo cepat ini juga merupakan bagian dari album penuh perdana mereka, bertajuk Planetarium yang akan segera dirilis pada pertengahan tahun ini lewat Kolibri Rekords.

Ken Jenie, nama di balik moniker Jirapah sekaligus otak utama dalam proyek ini menjelaskan bagaimana “Menjamur” berangkat dari sebuah pengalaman personal yang cukup membekas dan membuatnya berpikir tentang banyak hal. “Lagu ini terinspirasi dari pengalaman aneh yang saya dan istri saya alami beberapa waktu lalu di bilangan Jakarta Selatan. Malam itu kami berdua sedang berkendara dengan mobil menuju rumah selepas bekerja. Tiba-tiba kami melihat seekor kucing naas yang melintas pelan bersimbah darah, sebagian badannya cukup menyedihkan. Kemungkinan besar dia baru saja tertabrak, tapi kami juga tidak yakin. Namun yang pasti momen tersebut sangat membekas dan seperti menyadarkan bahwa hal-hal aneh akan selalu terjadi dalam hidup dan keseharian, dan bagaimana keanehan seperti itu merupakan bagian dari “kewajaran” yang sangat bisa terjadi lebih sering dari yang kita pikirkan”.

Ken menuturkan jika musik untuk “Menjamur” sudah ada lebih dulu, dan awalnya berlirik bahasa Inggris. Namun seiring proses pematangan berjalan, ia merasa musik yang ia buat sebagai catatan atau refleksi pengalaman psikadelia menjamur-nya ini membutuhkan lirik yang lebih bisa memberikan rasa dan kadar keanehan yang sama. Sehingga akhirnya Mar Galo, sang istri sekaligus bassis dipercaya untuk menuliskan kembali pengalaman aneh mereka melihat kucing berdarah tadi menjadi lirik lagu.

“Secara musik, kami ingin membuat lagu yang bagian-bagiannya terus bergerak maju, yang mengalir, namun tetap memiliki tema musik yang konsisten yang dapat merangkum kembali pergerakan tersebut. Segala hal terjadi begitu cepat, pun musiknya harus demikian. Mar memulai lirik tentang si kucing berdarah, dan seiring musiknya berprogres, akhirnya kami dapat melihat celah bagi lagu ini untuk perlahan “membuka” dan menceritakan latar dan tema besarnya sendiri,” Ken menjelaskan proses kreatifnya. Ken kembali melanjutkan, bahwa, “Membutuhkan tiga hari untuk merekam dan menyelesaikan ‘Menjamur’ di kamar apartemen kami, dengan berbagai revisi di sana-sini pada melodi, gitar, lirik, dan vokal, sampai kami benar-benar merasa telah mencapai titik lagu ini sudah memberikan perasaan yang sama seperti apa yang kami rasakan ketika cerita yang menginspirasi lagu ini terjadi dahulu.”

Jirapah sendiri dimulai sebagai sebuah proyek pribadi dari Ken Jenie, pemuda asal Jakarta yang ketika menempuh studi di New York, AS lebih dari sepuluh tahun silam. Ken menulis, memainkan, dan merekam materi-materi yang terinspirasi oleh post-punk, shegaze, indierock, dan indiepop yang gelap dan dreamy seorang diri di kamarnya, sebelum akhirnya bertemu dengan Mar, sesama pelajar Indonesia yang kemudian membantunya bermain bass untuk pertunjukan-pertunjukan live bawah tanah Jirapah. Keduanya kembali ke Indonesia pada 2010 dan 2011, dan melanjutkan Jirapah dengan bersama Yudhis Tira pada gitar dan Nico Gozali pada drum yang melengkapi formasi mereka sampai hari ini. Hingga 2018 Jirapah setidaknya telah merilis dua EP, enam digital 7″ singles, dan sejumlah single yang tersebar dalam banyak album kompilasi.

Bergabungnya Jirapah dengan Kolibri Rekords akan menandai babak baru sebagaimana mereka telah dijadwalkan untuk merilis album penuh perdana berjudul Planetarium pada pertengahan tahun ini dalam format fisik dan digital. Setelah “Menjamur”, satu nomor lain dari album ini juga telah disiapkan terlebih dahulu sebagai pengantar menuju album nanti. Saat ini Jirapah juga sedang bersiap untuk memulai sesi rekaman studio untuk album penuh kedua yang kabarnya juga akan dirilis dalam waktu yang tidak terlalu jauh.

Ketika ditanya mengapa membutuhkan sampai 10 tahun untuk melepaskan album penuh perdana, Ken memastikan bahwa, “Sejujurnya, kami juga tidak punya jawaban pasti. Ini adalah akumulasi dari berbagai macam hal yang terjadi dalam kehidupan kami, baik urusan personal maupun profesional. Selama pada akhirnya kami tetap berhasil melanjutkan membuat musik bersama-sama, then it’s okay.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait