Kabar baik di awal tahun kini datang dari Mr. Sonjaya, indie folk dari Kota Bandung yang digawangi Dimas Dinar Wijaksana (vokal), Ridha Kurnia Waluya (gitar, glockenspeil, pianika), Yaya Risbaya (drum, perkusi), Andry Cahyadi (bass), dan Nuansa Gema Ramdhani (gitar). Setelah mengeluarkan single pertama bertajuk “Sang Filsuf” dan merilis album “Laras Sahaja” dalam format digital, single kedua berjudul “Gadis Bersepeda” pun mereka persembahkan. Secara resmi pula Mr. Sonjaya mengumumkan bahwa di bulan Januari ini album “Laras Sahaja” akan bisa didapatkan dalam bentuk fisik di toko-toko musik, khususnya di Kota Bandung sendiri.

“Gadis Bersepeda” berkisah tentang seorang gadis remaja yang berusaha membuat “perlawanan” atau “protes” terhadap kondisi polusi udara di Kota Bandung tanpa perlu menghakimi orang lain atau menyalahkan pihak lain. Namun, sebenarnya memberikan aksi solutif terhadap apa yang ia perjuangkan yaitu udara segar dan bersih.

Lagu ini terinspirasi dari beberapa komunitas sepeda yang secara konsisten menggunakan sepeda sebagai alat transportasi di dalam kota, meski mungkin kurang cukup revolusioner sebagai sebuah gerakan. Akan tetapi bila sudah menjalar dan membudaya bisa memberikan perubahan signifikan bagi kehidupan kota, minimal mengurai kemacetan.

Lagu yang diciptakan sang vokalis, Dimas Wijaksana ini mungkin sudah akrab di telinga para penggemar Mr.Sonjaya. “Gadis Bersepeda” merupakan salah satu nomor lagu yang ada di album “Laras Sahaja”. “Ada energi positif yang harus disebarkan lebih luas lagi dari lagu ini, agar pesannya lebih nyampe” papar Dimas.

Selain itu, Dimas juga menegaskan bahwa konsep cinta yang diusung Mr.Sonjaya tidaklah melulu soal asmara dan birahi, namun peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar pun merupakan bentuk cinta.

Kontak

Twitter : @mrsonjaya_id

Instagram : @mrsonjaya.official


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait