Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) mempersembahkan karya terbaik Indonesia dalam pameran seni rupa internasional La Biennale di Venezia (atau Venice Art Biennale) ke-57 yang berlangsung mulai 13 Mei hingga 26 November 2017 mendatang. Dalam pameran seni rupa internasional tertua dan paling bergengsi di dunia itu, BEKRAF mendukung penuh seniman kelahiran Bali, Tintin Wulia, untuk menampilkan sebuah proyek tunggal.

Tintin Wulia adalah salah satu seniman Indonesia yang telah malang-melintang di berbagai pameran internasional sejak awal 2000-an dengan karya-karya video dan instalasinya. Proyek tunggalnya1001 Martian Homes” terdiri dari tiga pasang instalasi seni yang ditampilkan di dua lokasi berbeda secara simultan, tepatnya di Paviliun Indonesia di Arsenale, Venesia, Italia dan Senayan City, Jakarta. Ketiga pasang karya ini bersifat interaktif dan saling terhubung satu sama lain melalui jaringan Internet. Mengambil inspirasi dari sejarah lisan yang nyaris hilang, dalam 1001 Martian Homes” Tintin menggarap narasi-narasi yang dikisahkan di masa depan, di mana ruang dan waktu kita hari ini adalah masa lalu.

“Karya ini mencerminkan pergerakan yang tidak menentu dalam kehidupan kita sebagai manusia di dunia yang kita tempati ini. Pada saat yang sama, karya ini juga menjadi metafor untuk tempat tinggal manusia yang terus berkembang secara berkesinambungan, baik untuk kelanjutan hidup maupun untuk kebutuhan, dalam proses mencari kehidupan yang lebih baik atau dalam situasi krisis yang genting,” papar Tintin.

Salah satu karya instalasi video ‘The Most International Artist In The Universe” 2011 oleh Tintin Wulia

Tintin juga menambahkan bahwa 1001 Martian Homes terinspirasi dari kisah nenek moyangnya yang harus bermigrasi dan menjalani kehidupan dan perjalanan antar dua tempat, Indonesia dan China, ketika kedua negara itu belum mengenal konsep kedaulatan seperti sekarang. Ketertarikan Tintin pada isu-isu teritori dan perpindahan manusia turut mendorong Tintin merumuskan konsep yang sangat relevan dengan situasi global saat ini, di mana teknologi digital dan jaringan internet menciptakan kondisi yang membuat kita seolah-olah tinggal dalam ‘dunia tanpa batas’. “1001 Martian Homes” adalah pengembangan mutakhir dari rangkaian karya Tintin sebelumnya yang berfokus pada tema tentang batas dan identitas.

Penggarapan Paviliun Indonesia melibatkan banyak pihak, di antaranya komisioner Ricky Joseph Pesik yang juga Wakil Kepala BEKRAF; para deputi komisioner yang terdiri dari Melani W. Setiawan, Amalia Wirjono, Diaz Parzada; Enin Supriyanto selaku direktur artistik, dan kurator Agung Hujatnikajennong. Program ini mendapat dukungan penuh dari Ketua BEKRAF Triawan Munaf dan Deputi Pemasaran BEKRAF Joshua Simanjuntak sebagai dewan penasihat.

Ketua BEKRAF Triawan Munaf akan meresmikan Paviliun Indonesia yang berlokasi di Senayan City Lantai 6 pada Rabu, 10 Mei 2017. Secara pararel acara tersebut juga menandai dibukanya Paviliun Indonesia di Venesia, Italia pada hari yang sama. Pameran ini dapat dikunjungi oleh publik mulai Sabtu, 13 Mei 2017 hingga 26 November 2017. Para pengunjung di kedua lokasi dapat berinteraksi dengan objek seni, layar dan kamera yang saling terhubung secara digital. Dengan kehadiran tiga pasang karya di dua tempat sekaligus, keikutsertaan Indonesia di La Biennale di Venezia dapat dinikmati publik tanah air secara luas.

Triawan Munaf mengatakan, keikutsertaan Indonesia di La Biennale di Venezia merupakan bukti keseriusan BEKRAF dalam memberikan kesempatan kepada seniman Indonesia untuk berkarya dan mengharumkan nama bangsa di pentas seni global. Selain itu, dengan ragam suku, bahasa, serta kondisi wilayahnya yang bepulau-pulau, Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas oleh para seniman dunia dalam melahirkan sebuah karya seni.

“Keikutsertaan Indonesia di perhelatan La Biennale di Venezia memang belum berlangsung secara terus menerus dan konsisten. Namun, BEKRAF berkomitmen menjadikan ajang ini sebagai platform strategis dalam mendukung industri kreatif Indonesia,” ujar Triawan.

Ia melanjutkan, sesuai dengan pesan Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, Indonesia harus mampu memberikan sinyal kepada dunia bahwa negeri ini adalah bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dalam pergerakan seni kontemporer dunia. “Tintin dipilih untuk mewakili Indonesia di ajang ini karena karyanya mengandung pesan yang sangat relevan dengan perubahan yang tengah terjadi di dunia dewasa ini. Ketika Internet dan teknologi digital telah mengubah pandangan kita tentang konsep ruang dan wilayah,” ujar Triawan.

Kurator dari proyek ini, Agung Hujatnikajennong menuturkan, “1000 Martian Homes menghadirkan ruang pamer yang merefleksikan pengalaman sehari-hari berhadapan dengan benda-benda, layar dan kamera yang terhubung dengan internet. Dan lebih dari itu, narasi-narasi tentang memori, migrasi dan ruang dalam proyek ini sangat relevan dengan berbagai situasi dan jaman. ” tutup Agung.

Sumber foto : Evangeline SM


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait