Pada hari Rabu, 31 Agustus 2016, pameran seni-teknologi bertajuk ‘Visualizing the Invisible’ akan dibuka di Pacific Place, Level 3, Jakarta. Pameran ini akan menjadi bagian penutup dari Konferensi Big Data – Data for Life 2016, yang diselenggarakan di The Ritz- Carlton Pacific Place. Visualizing the Invisible mengeksplorasi isu seputar data dalam relasi kehidupan masyarakat, di mana data abstrak diolah sebagai medium dasar dalam menghasilkan karya seni.

Pameran ini dikurasi oleh Jeong-ok Jeon dan akan menampilkan karya enam seniman/group seniman: Angélica Dass (Brazil) | Angki Purbandono (Indonesia) | House of Natural Fiber/HONF (Indonesia) | Hysteria (Indonesia) | Mioon (Korea Selatan) | Sey Min (Korea Selatan).

Data yang dianalisa oleh para seniman dalam pameran ini berasal dari berbagai area seperti observasi masyarakat dan kemanusiaan, alam, ekonomi, pariwisata dan geografi. Hasil interpretasi data kemudian dielaborasi menjadi beragam karya seni, mulai dari instalasi foto konseptual, infografik mix-media, hingga video interaktif real-time, dan instalasi audio visual. Bagi kurator Jeong-ok Jeon, dengan menyatukan seni, data, dan teknologi pameran ini bisa menjadi proyeksi tren. “Dalam era Big Data, seniman visual telah melakukan perkembangan ekstrem dalam menggunakan medium. Berbeda dengan seniman pada generasi sebelumnya yang berkarya menggunakan obyek/subyek kongkrit, seniman masa kini mengeksplorasi data yang abstrak sebagai bahan dasar sebuah karya,” ujar kurator dan dosen asal Korea yang kini berdomisili di Indonesia setelah sebelumnya berkarir di Seoul, Paris, Venesia, Brisbane, Bangkok dan Washington DC.

Mediatrac – penyelenggara Konferensi Data for Life 2016 – berharap pameran ini mampu menginspirasi masyarakat yang lebih luas lagi mengenai dampak luas teknologi dan data yang tidak melulu kompleks. Menurut chairman Mediatrac Regi Wahyu, “Setiap hari, mungkin tanpa disadari, kita sudah menciptakan dan menggunakan data. Jadi data dan teknologi sebenarnya tidak asing dan bisa dinikmati semua orang, seperti seni.”

Tujuan pameran ini sejalan dengan misi Suar Artspace untuk mendekatkan seni ke publik. Visualizing the Invisible bermaksud untuk memperlihatkan bagaimana data dan seni bisa dielaborasi dan divisualisasikan ke dalam beragam rupa. “Batasan kreativitas sangat luas dan tidak berujung, seni pun bisa ditemukan dalam semua hal – dalam masyarakat, dalam data, dalam teknologi. Melalui pameran ini, kami mendukung dan merayakan itu,” ujar juru bicara Suar, Nin Djani.

Pameran ‘Visualizing the Invisible’ terbuka untuk umum dan tidak memungut biaya masuk. Pameran akan berlangsung selama satu minggu hingga 6 September.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait