Hidup adalah perjuangan yang tanpa mengenal lelah, mungkin inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan seorang pria kreatif bernama John Sundquist. Ia adalah seorang pria peyandang disabilitas yang hanya memiliki satu kaki. Meskipun hidup dalam kondisi yang seperti ini, John Sunquist tidak pernah menyerah, selama ini ia sudah banyak menorehkan prestasi dimulai dari mengikuti olimpiade ski salju paralympic, penulis buku, youtubermotivator, cosplayer, comedian dan masih banyak lagi lainnya.

Pria yang lahir pada 6 Agustus 1984 ini sudah berjuang menghadapi kerasnya hidup sejak masih kecil. Pada saat menginjak usia 9 tahun, John Sundquist dinyatakan terkena penyakit Ewing Sarcoma dimana ahli medis mengatakan John hanya memiliki kemungkinan untuk hidup sebesar 50%. Namun John Sundquist kecil tidak pernah menyerah, ia terus menjalani kemoterapi dengan begitu semangat. Setelah melakukan serangkaian pengobatan termasuk harus merelakan kaki kirinya, ia akhirnya dinyatakan bebas dari penyakit tersebut pada usia yang ke 13 tahun.

Meskipun hanya memiliki satu kaki, John sama sekali tidak minder, justru ia tumbuh menjadi seorang remaja yang ceria. Setelah selamat dari penyakitnya itu, John menghabiskan hari untuk berlatih bermain ski. Dan pada tahun 2006, akhirnya ia mengikuti perlombaan ski paralympic yang saat itu diadakan di Turin Italia, meskipun dalam olimpiade kali ini John tidak mendapatkan satu mendali.

Selain dikenal sebagai seorang atlit ski salju paralimpic, John juga merupakan seorang motivator ternama disekitaran Amerika. Pengalaman berbicara didepan umum pertama kali ia lalui saat dirinya masih berusia 16 tahun, dan sejak saat itu ia terus diundang untuk menjadi pembicara di acara-acara masyarakat sekitaran Amerika Serikat. Ia juga menulis beberapa buku seperti adalah We Should Hang Out Sometime: Embarrassingly, a True Story, Forty Voice: Stories of Hope From Our Generation, dan Just Don’t Fall: How I Grew Up, Conquered Illness, and Made It Down the Mountain.

Seiring berjalanya waktu, nama John Sundquist tidak hanya dikenal sebagai seorang motivator dan penulis buku, ia juga dikenal sebagai seorang penyandang disabilitas yang kreatif, karena selalu sukses menghadirkan kostum-kostum Halloween lucu setiap tahunnya. Ada banyak sekali kostum yang ia bagikan, namun yang paling menarik perhatian banyak orang yaitu ketika ia berkostum sebagai Flamingo. Pertama ia menggunakan baju dan celana dengan warna merah. Lalu dengan bantuan dua kruk yang berfungsi sebagai kaki Flamingo. Satu kaki yang ia miliki dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai kepala Flamingo dengan bantuan sebuah sepatu unik. Dan saat dirinya mengakat kakinya keatas, terlihat layaknya Flamingo yang sedang berdiri tegak.

Rupanya inspirasi kostum mirip Flamingo ini ia dapat pada saat sedang berlibur di kebun binatang. Ketika disana John melihat Flamingo, dan ia menyadari sesuatu bahwa Flamingo yang ia lihat tersebut mirip seperti dirinya yang sedang melakukan handstand dengan kruknya. Sedangkan beberapa kostum Halloween lucu lainya seperti pada saat ia menggunakan kostum biskuit jahe yang sudah dimakan, menirukan papan iklan dipinggir jalan, menirukan salah satu adegan di film Beauty and the Beast, menjadi manusia fidget spinner dan masih banyak lagi lainnya. Semua video ini diupload di Youtube akun pribadinya.

Ketika ditanya tentang kostum Halloween-nya ini, John mengaku bahwa hal tersebut adalah salah satu upaya untuk mengatasi kekurangannya dengan cara sentuhan humor. Dan ternyata cara seperti ini membuat John lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Itulah John Sundquist, seorang penyandang disabilitas yang berhasil menorehkan banyak prestasi ditengah keterbatasan fisik yang ia miliki. Setelah melihat kisah John Sundquist yang begitu seru, pantaskah kamu mengeluh? Percayalah, bagaimanapun kondisi kamu saat ini, pasti ada jalan yang membuat kamu lebih semangat dalam menjalani hidup.

Sumber terkait : wmalumnimagazine.com, johnsundquist.com, cosmopolitan


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait