Sebuah desa kecil di Jepang bernama Nagoro memiliki sebuah keunikan yang jarang atau mungkin belum tentu kamu dapatkan pada tempat atau desa-desa lainnya. Keunikan itu tercipta berkat tangan seorang seniman asal Jepang bernama Tsukimi Ayano yang memutuskan untuk kembali ke desa dimana ia dilahirkan. Ia melihat banyak sekali dari para tetangganya yang sudah pergi ke kota-kota besar yang menurutnya tempat orang-orang akan mati lebih cepat. Di desa menurut Tsukimi Ayano merupakan tempat dimana kematian bisa berjalan lebih lambat, maka dari itulah ia sangat mencintai dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal di desa.

Pada suatu hari ia mendapatkan sebuah ide untuk membuat orang-orangan sawah yang dimaksudkan untuk dibuat terlihat seperti ayahnya tercinta. Namun, akhirnya Tsukimi berpikir mengapa hanya membuat orang-orangan sawah saja. Dari situlah ia kemudian memulai untuk membuat kerajinan boneka-boneka yang berukuran sama seperti dengan ukuran manusia. Tidak hanya membuatnya saja, Ia juga membuatnya seperti hidup dan dibuat sama dengan orang-orang yang pernah tinggal didesanya. Ia menempatkan boneka-boneka itu di beberapa tempat yang menjadikan boneka itu seperti layaknya seorang manusia yang melakukan aktivitas sehari-hari.

Tidak terasa setelah lebih dari satu dekade ternyata ia sudah membuat sebanyak 350 boneka warga mainan. Dari yang berbentuk seperti seorang yang sedang menikmati keindahan di pohon, sekumpulan keluarga yang sedang duduk di luar rumah dan masih banyak lagi lainnya. Karena hal inilah yang pada akhirnya desanya menjadi terkenal karena keunikan beragam boneka. Tidak berhenti disitu saja Ayano terus mengasah kreasinya dengan terus membuat kerajinan yang baru dan juga memperbaiki boneka-boneka yang sudah mulai rusak. Bahkan di desa ini populasi boneka lebih banyak dibandingkan dengan populasi yang masih tinggal di desa Nagoro sejumlah kurang lebih 40 manusia.

Sumber : ibtimes, inhabitat, talkingpointsmemo


Qiqi

Seorang perempuan yang senang menari-nari mengikuti lantunan irama musik di bawah langit bersama seorang pena.

Artikel-artikel terkait