Teknologi otomasi memang memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Bahkan, teknologi ini pun sudah menyasar berbagai bidang. Termasuk di antaranya adalah kendaraan otomatis. Tidak terkecuali, truk berukuran besar yang harus mengangkut beban yang sangat berat. Salah satu startup yang mengembangkannya adalah Otto.

Teknologi otomasi yang digunakan oleh Otto pun memberikan kesempatan bagi para sopir untuk bisa beristirahat dengan tenang di jalan raya. Apalagi, teknologi otomasi ini memungkinkan truk untuk berjalan otomatis secara penuh, tanpa campur tangan manusia. Berbeda dengan teknologi serupa yang digunakan oleh Tesla yang berupa teknologi semi otomatis.

Teknologi otomasi yang dimiliki oleh Otto pun memiliki tingkat keamanan tinggi. Apalagi, mereka sudah membuktikannya secara langsung di lapangan. Pada akhir 2016, Otto bersama dengan produsen bir Budweiser pun melakukan kerja sama terkait dengan pengujian tersebut. Dalam pengujian tersebut, seorang sopir bernama Will Martin menjadi sosok yang menemani pengiriman 50 ribu kaleng bir menggunakan truk canggih milik Otto seharga US$30 ribu.

Truk Otto tersebut dilengkapi dengan dua mode pengendaraan, yakni mode otomatis dan manual. Saat mode manual, maka Martin menjadi sosok yang mengendalikan truk secara langsung. Sementara itu, mode otomatis memberikan kesempatan bagi Martin untuk bisa bersantai di belakang tempat duduk sopir. Hanya saja, teknologi otomatis milik Otto ini hanya secara khusus dipakai saat berada di jalan tol.

Pembatasan penggunaan tersebut dilakukan untuk keamanan truk serta pengguna jalan lain. Apalagi, faktor gangguan yang ada di jalan tol relatif jauh lebih sedikit dibandingkan di jalan raya. Truk ini tidak perlu menemui pejalan kaki yang tengah menyeberang, lampu merah, dan sebagainya. Dengan begitu, kehadiran seorang sopir pun masih diperlukan saat truk melintasi area jalan raya.

Pihak Otto pun menempatkan beberapa sensor agar truk tersebut bisa ‘melihat’ kondisi di sekitarnya. Termasuk di antaranya adalah kamera di atas windshield, baut radar di bagian bumper, serta tiga unit laser LIDAR di bagian karavan dan bagian depan truk. Kinerja sensor tersebut pun cukup andal. Terbukti, truk melihat ada rintangan di depannya, sistem akan secara otomatis melakukan pengereman. Sebagai catatan, truk yang digunakan oleh Otto merupakan truk dengan sistem transmisi otomatis.

Otto pun kini telah menjadi bagian dari Uber, perusahaan yang dikenal sebagai penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi. Menurut rencana, Otto pun bakal dijadikan Uber sebagai layanan pengiriman barang jarak jauh.

Namun, untuk saat ini pihak perusahaan masih berusaha untuk mengembangkan truk otomatis menjadi lebih baik lagi. Terutama untuk meningkatkan sistem transmisi agar lebih mulus, pengereman, serta kontrol lane. Tidak terkecuali, mereka juga ingin agar truk tersebut dapat menghadapi medan berat saat cuaca buruk atau melintasi area konstruksi.

Sumber : money.cnn.com, theverge.comUber Advanced Technologies Group,


I.Baihaki

Penulis yang masih belajar menulis dengan benar dan masih setia dengan dua ponsel Nokia jadul.

Artikel-artikel terkait