Gamelan; sebuah ensembel musik tradisional asal Jawa dan Bali yang hampir tak pernah luput dari acara adat setempat. Musik gamelan yang biasanya dipadukan dengan pertunjukan tari ataupun wayang ternyata sukses mencuri hati banyak ekspatriat, salah satunya Pete Smith.

Smith pertama kali berjumpa dengan gamelan saat sedang menjalankan studinya di York University, Kanada. Ia kemudian menerima beasiswa di STSI (sekarang ISBI) Indonesia dan menempuh pendidikan pada tahun 1992-1995. Saat kembali ke UK, Pete aktif mengajar di bidang musik, dan mengembangkan berbagai program musik UK yang berhubungan dengan gamelan. Smith kemudian mendirikan The Oxford Gamelan Society yang rutin mengadakan latihan setiap hari Rabu, memainkan instrumen Kyai Madu Laras.

Seperti yang diberitakan lewat akun Youtube BBC Indonesia tentang Pete Smith

Saat diminta untuk menjelaskan budaya musik Indonesia, Smith menyebutkan bahwa, “…Musik klasik kita tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka (musik Indonesia). Tradisi bermusik mereka lebih kepada mengapresiasi musik secara bertahap, dan tidak mengejutkan…”

Setelah mempelajari gamelan dan instrument tradisional Indonesia lainnya, Smith pun menemukan fakta bahwa musik Indonesia ternyata cukup mempengaruhi panggung permusikan Asia Tenggara. “…Budaya musik Indonesia berhasil jadi yang terdepan di antara budaya musik dunia. Buktinya, pemerintah Malaysia kini memiliki peraturan tentang kuota musik pop Indonesia yang masuk ke negara mereka, agar tidak terlalu mendominasi panggung musik setempat. Pada masa kini, terdapat banyak tren musik di Asia Tenggara yang dipengaruhi oleh kreatifitas Indonesia.” Smith juga menemukan bahwa banyak musisi Eropa seperti Debussy, Godowsky, Ravel, Ligeti, Harrison, dan James Telford yang karyanya dipengaruhi oleh musik gamelan.

The Oxford Gamelan Society telah tampil di berbagai acara dan universitas sekitar Oxford seperti St. John’s dan St. Anne’s. Pada tahun 2011, mereka juga berpartisipasi dalam konser ulang tahun ke-40 The Bate Collection. Selain itu, komunitas ini juga tampil pada Southeast Studies Symposium tahun 2012-2014, dan telah menjadi bagian tetap acara tersebut. The Oxford Gamelan Society seringkali memadukan penampilan mereka dengan musik Eropa, pertunjukan wayang, dan juga pertunjukan tari Indonesia.

Smith yang memiliki nama Jawa “Parto” ini mengaku selalu rindu dengan suasana Solo yang mengingatkannya akan suasana desa tempatnya tinggal waktu kecil. Pengalamannya tinggal di Indonesia ternyata juga membuatnya fasih berbahasa Jawa, layaknya warga lokal. Wow! Semoga kecintaan Smith terhadap budaya dan suasana Indonesia dapat men-trigger kita semua untuk mempelajari, mencintai, dan mengembangkan segala kekayaan yang negeri ini miliki.

Sumber: The Oxford Culture Review, Project Southeast Asia, Gamelan Oxford, OxOnArts, BBC Indonesia, IrisandLime


A.Astari

Seorang ilustrator yang mencoba untuk mengisi kekosongan di antara gagasan dan kata-kata dengan membuat ilustrasi, dimana ketiganya memiliki porsi yang sama-sama penting.

Artikel-artikel terkait