Ada apa dengan warna biru? Apa yang membuat warna biru menjadi lebih spesial dibanding dengan warna-warna lainnya? Yup! Tentu saja biru adalah warna yang spesial, setidaknya begitulah hasil penelitian Dr. Jules Davidoff; seorang pengajar psikologi pada Departemen Psikologi Goldsmiths College. Nama Jules mendadak tenar setelah ada perdebatan heboh mengenai sebuah gaun putih-emas yang berwarna hitam-biru sekaligus. Perdebatan tersebut akhirnya membawa publik lebih dalam ke berbagai penelitian yang dilakukan oleh Davidoff dan beberapa peneliti lainnya.

Mengacu pada teori yang dipaparkan oleh Jules Davidoff, manusia memiliki sebuah elemen dalam otak yang disebut dengan “Pictorial Register” atau jika diterjemahkan menjadi “Daftar Bergambar”. Pictorial Register berupa  teater bergerak di dalam otak kita yang menyimpan berbagai ingatan mengenai bentuk dan warna. Ingatan-ingatan tersebut kemudian akan mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan dan tindakan, tanpa mendapat pengaruh dari keberadaan suatu kosakata. Misalnya, ketika Davidoff dan timnya pergi ke sebuah area di Polynesia, ia dan penduduk setempat sama-sama berpendapat bahwa buah dengan keadaan warna tertentu merupakan buah yang sudah dapat dimakan, walau mungkin perbendaharaan kata yang mereka miliki mengenai warna buah tersebut bisa saja berbeda.

Dari penelitiannya, Davidoff menyimpulkan bahwa tidak ada pengetahuan mengenai bentuk yang kita bawa sejak lahir. Sama halnya dengan pengetahuan tentang warna. Pengetahuan mengenai warna yang kita lihat saat ini adalah hasil pemanggilan memori yang pernah kita input ke dalam Pictoral Register kita. Maka tak heran apabila ada sebagian orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan beragam warna. Hal itu terjadi karena mereka memiliki keterbatasan input mengenai warna.

Argumen tersebut diuji coba dengan menggunakan objek beberapa penduduk Suku Himba di Namibia. Suku tersebut tinggal di sebuah kawasan yang cukup jauh dari peradaban dunia, namun mereka masih mengenal berbagai penemuan mendasar seperti kaos dan celana.

Salah satunya adalah eksperimen yang dilakukan oleh salah satu program di stasiun tv BBC Horizon melalui studi dari pakar Psikologi, Serge Caparos, dimana ia merujuk datang ke Namibia untuk bertemu Suku Himba ( Begitu juga yang dilakukan oleh Jules Davidoff). Dalam prosesnya, satu per satu penduduk Suku Himba diberi kesempatan untuk memperhatikan sebuah lingkaran yang terdiri dari sebelas kotak berwarna hijau, dan satu kotak berwarna biru. Mungkin kita dapat membedakan kotak biru tersebut dengan gampang, hanya dalam hitungan milidetik. Namun lain halnya dengan para penduduk Himba.

Mereka tidak bisa membedakan warna biru dengan hijau melalui sesui uji coba pertama, satu kotak berwarna biru dari dua belas kotak hijau yang ada. Sebaliknya, pada sesi uji coba kedua, mereka dapat dengan mudah membedakan mana warna hijau yang paling gelap dari dua belas kotak hijau yang ada.

Dari percobaan tersebut terbukti, mereka lebih banyak melihat warna hijau di sekitar tempat tinggal asal mereka, sehingga Pictorial Register mereka terisi dengan berbagai input mengenai warna hijau, dan mereka dapat dengan amat jeli membedakan berbagai warna hijau. Hal tersebut menyebabkan penduduk Himba melihat dunia ini dengan keadaan yang berbeda dibandingkan dengan kita. Dunia yang mereka lihat kemungkinan besar akan terkesan lebih polos dengan sarat lebih dikit dalam perbedaan warna.

Kita tentunya pernah ada di fase seperti penduduk Himba, yang tidak mengenali warna biru, sampai akhirnya kita melihat dan menyimpan memori tersebut ke dalam Pictorial Register masing-masing. Seperti pembahasan berikutnya dari Podcast Radiolab, kalau warna biru adalah warna terakhir yang ditemui bahkan dari jaman dahulu kala. Bangsa pertama yang mengenal warna biru adalah Bangsa Mesir, karena pada zaman tersebut, mereka adalah satu-satunya bangsa yang dapat memproduksi pigmen warna biru.

Sumber:
http://www.businessinsider.co.id/what-is-blue-and-how-do-we-see-color-2015-2/
http://www.artbrain.org/colour-categories-as-cultural-constructs/
http://www.sciencealert.com/humans-couldn-t-even-see-the-colour-blue-until-modern-times-research-suggests
http://www.radiolab.org/story/211119-colors/


A.Astari

Seorang ilustrator yang mencoba untuk mengisi kekosongan di antara gagasan dan kata-kata dengan membuat ilustrasi, dimana ketiganya memiliki porsi yang sama-sama penting.

Artikel-artikel terkait