Dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan, Istana Kepresidenan Indonesia menggelar pameran koleksi lukisan-lukisan negara bertajuk “17/71: GORESAN JUANG KEMERDEKAAN” pada tanggal 2 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta. Terselenggara pameran koleksi lukisan Istana Negara merupakan upaya yang pertama kalinya diselenggarakan semenjak Indonesia merdeka, yakni 71 tahun lalu. Selain 28 lukisan terpilih dari ribuan lukisan,  sekitar 100 foto kepresidenan dan sembilan kitab koleksi benda seni Istana Negara  dapat dinikmati selama sebulan di Galeri Nasional.

Pameran seni “17|71 Goresan Juang kemerdekaan” sangat ramai didatangi pengunjung dengan antrian yang bisa terhitung sampai ratusan, tercatat dari jumlah antrian di layar TV terpajang dekat pintu masuk pameran.  Dalam menanggulanginya disediakan atensi khusus dari rana teknologi melalui aplikasi online dimana kita bisa daftar dengan menentukan tanggal dan pilihan slot waktu untuk mengunjungi. Selain itu disediakan  satu aplikasi augmented reality, yang bisa di-download secara cuma-cuma di google play store, sangat cocok untuk mengetahui sejarah para pelukis dengan cara interaktif, sembari mengantri.

Saat masuk, kita bisa lihat hasil karya-karya dalam bentuk goresan cat oleh para pelukis-pelukis tersohor periode tahun 1857-1977 dari Indonesia maupun beberapa pelukis asing  seperti Basoeki Abdullah, Trubus Sudarsono, Raden Saleh, Affandi, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Surono,Walter Spies, Lee Man Fong, Rudolf Bonnet, Miguel Covarrubias dan lain-lainnya. Bahkan hasil karya lukisan Presiden Indonesia kita yang pertama, Ir.Soekarno , berjudul “Rini” juga ditampilkan.

Mayoritas di setiap lukisan, sejarah para pelukis dijabarkan begitu juga interaksi mereka dengan Presiden Indonesia pertama. Dalam pameran ini juga dapat dilihat kedekatan beliau dengan dunia seni rupa. Seperti bagaimana ceritanya sang pelukis Dullah terpilih sebagai pelukis terpercaya Presiden Ir.Soekarno, cara beliau mendapatkan lukisan “Gadis Melayu” dari Presiden Meksiko Adolfo López Mateos dan begitu juga cerita beliau menugaskan para seniman untuk melukis para pahlawan Indonesia. Disamping itu beberapa  lukisan menjabarkan ilustrasi era sebelum kemerdekaan dari polemik sosial maupun perekonomian saat itu.

Beberapa cerita  para seniman pun dapat dibaca dari sudut pandang mereka dalam menggambarkan keindahan, budaya  dan ciri khas Indonesia Raya yang belum tentu ditemui dimana-mana. Saya masih ingat saat berkunjung, ada seorang  bapak sembari melihat karya Hendra Gunawan mengucap, “Lukisan seperti ini tidak bakal ada dimana-mana selain di Indonesia.”, ‘kerokan’, teknik pengobatan dari Cina, merupakan lukisan yang sangat amat menggambarkan Indonesia, seperti kita ketahui, cara kerok untuk menghilangkan masuk angin sangat populer dari dulu hingga sekarang. Dan lukisan ciptaan Surono, dengan judul yang sama,  menggambarkan panggung “Ketoprak” dimana beliau menyisipkan ciri-ciri khas Indonesia yang cukup humoris. Beberapa lukisan  wujud budaya dan nusantara di Indonesia pun diikut sertakan oleh para  seniman mancanegara sewaktu mereka menetap di Indonesia.

Menelusuri lebih lanjut, selain lukisan terdapat puluhan foto-foto kepresidenan tersusun dan berhadapan dengan infografis sejarah koleksi benda seni Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Dan diantara lukisan di pameran, kitab-kitab koleksi benda seni Istana Negara begitu juga artefak lainnya seperti guci ataupun vas dari Istana Negara dipajang berikut dengan info sejarahnya.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait