Suatu kejutan buat saya ketika diceritakan ada museum sex di Cina. Saya sedikit tidak percaya tapi penasaran. Dulu memang ada museum sex di Shanghai pada tahun 1998, tapi karena sesuatu hal dan yang lain, museumnya pindah ke Tongli, suatu kota di kawasan Wujian, propinsi Jiangsu.

Kebetulan saya memang berencana jalan-jalan ke kota air Tongli yang dijuluki “Kota Venesia Timur” karena memiliki kanal-kanal air yang bisa ditelusuri dengan gondola.

Sambil berjalan-jalan di Tongli, saya melihat-lihat peta, yang untungnya ada dalam bahasa Inggris, untuk mencari letak museum tersebut. Sedikit diujung kota air ini tapi mudah ditemukan.

Menurut saya, Chinese Sex Museum (中华性文化展览, Zhōnghuá Xìng Wénhuà Zhǎnlǎn) ini sangat unik karena berada di kota kecil di negara yang masih tabu untuk pembicaraan hal-hal intim. Museum ini diprakarsai oleh Liu Dan Lin, Profesor dari Shanghai universitas dan Dr. Hu Hong Xia, seorang pakar sexology dan juga penulis.

Setelah kepindahannya dari Shanghai ke Tongli di tahun 2004, museum ini memakai gedung dan area bekas sekolah keputrian. Ketika masuk ke area taman, ada sekitar 60 patung dengan aneka macam posisi (ahem) dan alat kelamin yang menurut saya antara mengundang faktor syok dan mencoba menahan rasa geli.

Sekiranya ada sekitar 1600 benda-benda dan bahan sejarah yang melukiskan 9000 tahun sejarah sex di Cina yang terbagi dalam 4 bagian, yaitu sex di kehidupan primitif, pernikahan, sex dikehidupan sehari-hari dan tingkah laku sex yang tidak lazim. Bagian terakhir menarik karena Cina pada jaman dulu tidak membedakan homosexuality dengan sex normal seperti di dunia barat. Bagi mereka, sex itu natural seperti layaknya bernafas, makan dan tidur.

Tentu saja, setiap laki-laki harus tetap ada keturunan. Dibagian pernikahan and sex dikehidupan sehari-hari juga diceritakan posisi seorang istri yang menjadi milik suami setelah menikah dan diwajibkan melayani suami dan memberi anak.

Para istri harus suci sebelum malam pertama dan memang tidak boleh menyeleweng. Tapi ternyata, mereka memiliki alat-alat bantu sex untuk edukasi dan mengisi (ahem) waktu ketika suami pergi. Alat bantu sex ini juga digunakan oleh wanita-wanita tuna susila dan para kasim.

Hal menarik lain yang saya pelajari di museum sex ini adalah karakter-karakter tulisan Cina yang pada jaman dulu menggunakan picture-graph berusia 5000 tahun yang  diukir pada tulang dan kerang dari jaman Dinasti Shang. Sampai saat ini, ada sekitar 200 karakter Cina tentang laki-laki, perempuan, alat kelamin dan lain-lain yang berhubungan dengan sex dan menghasilkan keturunan.

Begitulah pengalaman unik di Chinese Sex Museum (中华性文化展览, Zhōnghuá Xìng Wénhuà Zhǎnlǎn), Tongli.

Tentu saja selain penasaran dengan museum sex, Tongli patut dikunjungi untuk menikmati akhir pekan yang  jauh dari hirup pikuk kota. Tongli terkenal dengan kanal-kanal yang tenang dan arsitektur taman-taman dari mansion-mansion orang kaya dari jaman Dinasti Ming dan Qing.

Bagaimana caranya ke Tongli?

Saya berangkat dari Shanghai menggunakan bis Shanghai Sightseeing Bus Center dari Shanghai Stadium ke Tongli Passanger Bus Station. Harga tiket sekitar 100 RMB (atau Rp. 200.000-an menurut konversi Google) untuk perjalanan selama 1 jam, sudah termasuk tiket masuk ke tempat wisata kota air Tongli.

Dimana saya menginap?

Karena tempat lain sudah penuh, saya menginap di Tongli Wanfu Humble Cottage untuk 1 malam. Harga per-kamar untuk berdua sekitar 350 RMB (atau Rp. 680.000-an menurut konversi Google).

 


101monkeymagic

Sesosok monyet yang menyukai coklat, kopi dan terkadang teh. Menyukai apa saja yang berbentuk fantasi dan sembari lalu berkelana.

Artikel-artikel terkait