Terkadang dalam menikmati sebuah karya seni, mungkin di antara kita ada yang merasa sulit terhubung dengan sang seniman dan karyanya. Entah memang topiknya yang tak bersentuhan dengan pengalaman pribadi kita, atau malah karena pembahasannya yang terlalu rumit dan berat, sampai-sampai audiens merasa terintimidasi oleh sang karya.

Nah, kalau kamu pernah merasakan pengalaman di atas, mungkin kamu akan tenang dan senang dengan fakta bahwa Indonesia punya seorang ilustrator muda yang bisa membuat harimu terhibur penuh warna! Ia adalah Michelle Sherrina, atau akrab dipanggil dan dikenal sebagai ‘Sherchle‘. Kebanyakan karya ilustrasi Sherchle terdiri dari karakter-karakter lucu, serta plesetan dari topik-topik yang sedang terjadi di masyarakat. Penasaran seperti apa? Yuk, berkenalan dengannya!

Ceria, jujur, mengalir apa adanya. Itulah karakter yang terpancar kuat saat berbincang dengan Shercle. Berawal dari ketertarikan untuk menggambar sejak kecil, Sherchle menemukan banyak referensi yang mempengaruhi karyanya hingga kini. “Waktu kecil saya suka manga, Dragon Ball, Conan, dan Pokemon. Lalu waktu SMP, sempat tertarik untuk belajar bikin graffiti. Berlanjut ke masa SMA, saya pun menyukai urban toy, salah satunya Thunder Panda,” tuturnya bersemangat. Dulu ada yang pernah bilang kalau gambar saya kebarat-baratan. Padahal nggak juga, karena saya pun ikut terpengaruh dari karakter-karakter unik di Jepang. Kalau ditanya influence utamanya apa, rasanya saya jadi nggak bisa jawab karena mereka sudah mengalami percampuran.”

Kesukaan Sherchle untuk mengeksplor dunia kreatif pun menghantarkannya ke jurusan kuliah desain grafis. “Waktu kuliah saya ngambil jurusan desain grafis, tapi lebih kuat ke bidang ilustrasinya. Karena di masa kuliah cukup ke-distract dengan berbagai tugas, akhirnya setelah lulus saya baru memutuskan untuk berkomitmen dalam menggarap bidang ilustrasi dan lettering.” Proses penggarapan serius itu ternyata membawa banyak perubahan terhadap gaya ilustrasi Sherchle. “Gambar saya waktu kuliah beda banget dibandingkan sekarang! Saya malu nunjukinnya. Apalagi di Facebook kan sering ada fitur flashback posting-an kita dari beberapa tahun lalu, jadinya gambar lama saya sering muncul. Jadi semakin malu deh,” tutur Sherchle sambil tertawa.

Untungnya, ilustrator yang sempat menjadi asisten dosen di Binus Internasional ini tak malu-malu untuk men-submit karya di event Unknown Asia 2017. Unknown Asia adalah sebuah acara pameran seni berskala internasional yang tahun ini bertempat di Harbis Hall Osaka, Jepang. Setelah lolos dalam proses seleksi awal, Sherchle diharuskan melakukan presentasi terbuka di hadapan para juri yang berasal dari Jepang. “Waktu presentasi, saya sempat menyampaikan kepada para juri bahwa karya saya cukup terinspirasi oleh Kendra (@ardneks), dan saat itu Kendra juga turut hadir mendengarkan presentasi saya. Para juri pun mengatakan bahwa hal tersebut memang terlihat, dan saya berhasil membuat influence itu menjadi style milik saya sendiri.”

Tak hanya itu, para juri Unknown Asia juga sangat mengapresiasi karya Sherchle. “Kata mereka, saya terlihat sangat bersenang-senang dalam berkarya, dan keringanan itulah yang membuat orang juga senang melihat karya saya,” tuturnya riang. Sesudah proses wawancara dan persiapan pameran rampung, Sherchle pun kemudian berangkat ke Jepang untuk mengikuti rangkaian acara Unknown Asia selama tiga hari bersama dengan seniman Indonesia terpilih lainnya, yaitu Annie Gobel, Debbie Tea, Evelyn Pritt, Hilarius Jason Pratana, Natasha Lubis, Resatio Adi Putra, dan Varsam Kurnia.

Sherchle yang kini berprofesi sebagai associate creative editor di Percolate Galactic memang sering kali membiarkan proses berkaryanya mengalir begitu saja. “I draw whatever I like. Nggak ada yang dipikirkan secara berat, dan prosesnya nggak ada yang dipaksakan. Jadi kayak hobi aja. Terkadang saat saya melihat kombinasi warna yang menarik, saya jadi ingin menggambar. Sedangkan kalau masalah style, itu semua kompilasi dari influence yang saya suka.” Bagi Sherchle, proses menemukan style dalam berkarya memang cukup rumit. “Dalam menemukan style, semua orang pasti berawal dari meniru. Sayangnya, banyak orang yang berhenti di tahap meniru saja, dan karyanya malah jadi sama dengan yang ditiru. Proses mencari style memang tricky, jadi perlu banyak mengeksplor dan rajin melihat referensi.”

Di samping karakteristik karyanya yang mengalir begitu saja, Shercle sesungguhnya juga menuangkan emosi pribadi ke dalamnya. “Sebebas-bebasnya menggambar, setiap karya selalu berusaha menyampaikan sebuah perasaan. Menggambar menjadi proses mengeksplor perasaan, yang kemudian disampaikan lewat bahasa visual.”

A post shared by Michelle Sherrina (@sherchle) on

A post shared by Michelle Sherrina (@sherchle) on

Emosi pribadi Sherchle dapat kita tengok dan coba rasakan dalam karyanya yang menampilkan gambar sepotong pizza. “Maksud karya itu tuh kayak; I’d share my last slice of pizza with you.” Ada pula karya dengan gambar sepotong donat yang tak dihabiskan hingga tuntas. “Kalau yang donat, ceritanya tentang halfway exit. Tentang sebuah hubungan; yang awalnya ketemu orang baru, merasa tertarik, namun setelah berkenalan lebih lanjut, sebelum ketemu ‘hole’-nya, ternyata nggak doyan, dan donatnya ditinggal begitu aja.” Dalam rangkaian seri ilustrasi surealis tersebut, Sherchle mengaku memang lebih moody dan memainkan perasaannya selama proses pengkaryaan. Nuansa surealis itu sendiri terinspirasi dari cerita-cerita karangan Haruki Murakami.

A post shared by Michelle Sherrina (@sherchle) on

Jika berbicara tentang eksistensinya di media sosial, Sherchle merupakan seniman yang mampu menarik perhatian banyak warganet. Di kolom komentar Instagram miliknya, kamu akan dengan mudah menemukan komentar-komentar apresiatif penuh gelak tawa. Menurut Sherchle, GIF dengan gambar orang yang sedang duduk di atas kloset adalah karya yang paling banyak mendapat tanggapan. Tak sampai di situ, ternyata karya Sherchle juga pernah di-repost oleh akun resmi KFC Rusia! “Itu kayaknya highlight tahun 2017 buat saya. Hahaha…”

Bagi Sherchle, respon positif yang ia dapat dari para audiens merupakan hal yang tak terduga. “Orang-orang cukup apresiatif dengan karya saya. Mereka ngerti referensinya, sehingga jokes saya nyampe. Saya nggak nyangka akan mendapat apresiasi seperti itu karena selama ini saya selalu menggambar untuk kesenangan pribadi. It’s a nice feeling.”

Selain eksis di dunia internet, Sherchle juga mulai merambah ke bidang merchandising. Karya-karya miliknya dicetak di berbagai media, terutama stiker dan pin, untuk kemudian diikutsertakan dalam beberapa acara art market. “Rasanya ada kepuasan tersendiri saat karya saya dijadikan merchandise. Kemarin bahkan saya sempat ngomong ke temen, ‘Eh saya impulsif nih nge-print sticker!’ Hahaha… Gawat banget ya impulsifnya malah bikin produk!”

Respon para penggemar saat bertemu di booth Sherchle pun beragam. “Waktu itu ada yang nyamperin ke booth dan ngomong, ‘Saya ngeliatin GIF kamu yang sosis nggak berenti-berenti!’. Ada juga yang beli stiker Squat Goals tujuh lembar, untuk dibagiin ke temen-temen satu squad-nya. Bahkan ada yang sampe gemetaran waktu datang dan ngeliat sticker wall saya di Popcon,” Kata Sherchle sambil tertawa. “Salah satu alasan saya ikut event adalah karena saya senang melihat reaksi orang terhadap karya saya.” Ke depannya, Sherchle pun berniat untuk semakin mengembangkan bentuk merchandise miliknya, “Sempet kepikiran mau bikin flip book dan zine. Dulu juga sempet ngomong sambil becanda-serius ke temen, kalo suatu saat nanti saya bakalan ngediriin sticker and pin empire!” ujarnya ceria.

Walau memiliki kebiasaan berkarya yang mengalir dan penuh kegembiraan, Sherchle kadang juga mengalami artblock. “Biasanya ngalamin artblock kalo lagi capek parah ngurusin kerjaan maupun event. Itu semua cukup memakan energi.” Bagaimanapun juga, ia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. “Lakukan semuanya dengan hati. Kalo memang itu yang mau kamu tuju dan perdalam, maka perdalamlah tanpa setengah-setengah. Figure out cara untuk menuju ke sana, misalnya dengan melakukan riset.”

Semoga karya-karya Sherchle yang dibuat dengan sepenuh hati dan rasa senang juga mampu mencerahkan hari-harimu ya!


A.Astari

Seorang ilustrator yang mencoba untuk mengisi kekosongan di antara gagasan dan kata-kata dengan membuat ilustrasi, dimana ketiganya memiliki porsi yang sama-sama penting.

Artikel-artikel terkait