Terkadang, proses adalah sesuatu hal yang berharga terutama dalam membuat sesuatu, baik itu karya ataupun hal lainnya. Cerita demi cerita dari suatu hal yang kecil sampai terbesar pun tidak dipengaruhi hasil awal maupun akhir, hanyalah proses yang menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman berharga, baik untuk diri sendiri ataupun yang bisa dirasakan orang lain. Hal ini dialami oleh Thalia W yang berkecimpung di dunia fotografi baru-baru ini, dimana ia bersama rekan lainnya baru saja menyelenggarakan pameran kolektif berjudul ‘The Blixt Project‘ di That’s Life Coffee. Ia bercerita bersama GOOGS, proses perkenalan fotografi sebagai sekedar memakai saja, menjadi tertarik dan serius saat mendapat kelas fotografi saat kuliah, hingga bisa dipercaya menjadi ketua panitia pameran. Dan merasakan proses pengerjaan fotografi yang berkesan, bertajuk ‘Pluto’. Yuk simak perbincangan kami bersamanya.

Semenjak kapan kamu mengenal fotografi?

Sewaktu di Lampung aku sudah diperkenalkan sama fotografi. Pertama kali saya memulai dengan memakai kamera film punya ibu untuk membantu mengabadikan momen keluarga. Sayangnya setelah beberapa lama, saya beralih ke kamera poket digital karena toko langganan keluarga untuk cuci film dan cetak sudah bangkrut.

Saya benar-benar mengenal dan lebih mendalami semenjak belajar kelas fotografi saat kuliah melalui kamera tipe DSLR. Saya juga menyadari dan mendapat ilham, kalau dunia fotografi sangat luas.

Hampir peserta fotografi yang ikut berpartisipasi THE BLIXT PROJECT berupa Fine Art Photography, termasuk kamu. Apakah kamu sudah menyukai  Fine Art Photography sebelumnya?

Saat saya mulai menekuni serius fotografi, langsung tertariknya ke Fine Art Photography. Referensi saya yang memberi pengaruh cukup besar dalam fotografi yaitu Brooke Shaden.

Apakah kamu ada tokoh lain yang memberi inspirasi selain Brooke Shaden?

Ada Jennifer Hudson, Ellen Jane Rogers, Kim Meinelt dan kemudian Noel Oszvald.

Apakah ada fotografer lokal yang memberi kamu inspirasi juga?

Ada.. salah satunya Rewinda Omar yang membuat cover album Bara Suara, “TAIFUN”.

Bagaimana kamu akhirnya memutuskan ikut dan menjadi ketua pameran ‘THE BLIXT PROJECT’?

Dulu sebelum ikut BLIXT foto saya belum bagus dan nilai tugas masih jelek. Tugas kuliah kelas foto saya tidak pernah dapat 70 bahkan 60 terus. Saya ragu banget karena peserta yang ikutan nilainya bagus-bagus. Salah satu teman seperjuangan di BLIXT memberi motivasi kenapa tidak ikutan saja sebagai proses belajar untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik.

Setelah ikut dan menjalani proses untuk pameran THE BLIXT PROJECT, saya dipercaya oleh kurator dan pembimbing, Atreyu Moniaga, sekitar pertengahan April tahun lalu untuk menjadi ketua pameran.

Kamu mengambil tema ‘kewanitaan’ untuk pameran THE BLIXT PROJECT. Boleh dijelaskan kenapa mengambil tema tersebut untuk mewakilkan foto-foto kamu?

Saya mengambil tema ‘kewanitaan’ berdasarkan beberapa pengalaman pribadi saya dan ada juga presepsi masyarakat. Selain itu saya pingin menjelaskan kepada orang-orang jangan cuma melihat dari satu sudut tentang hal-hal buruk soal wanita. Saya berharap kalau yang melihat karyaku bisa mengerti dan menyadari hal itu.

Apakah ada karya yang kamu paling senangi dilain karya kamu lainnya untuk pameran THE BLIXT PROJECT?

Karya saya yang ada di buku berjudul ‘PLUTO’. Saya menyukai foto itu karena pengalaman dalam membuatnya. Dan teman-teman saya  bilang foto berjudul ‘PLUTO’ itu paling powerful.

Jadi dulu selama masih mengumpulkan karya saya, tiap dua atau sekali seminggu ke bogor untuk mencari lokasi karya. Pengalaman dalam proses pembuatan PLUTO itu tersusah.

Kenapa ‘PLUTO’ paling susah dalam tahap pengambilan?

Jadi saat pertama kali tiba di curug nangka, Bogor. Saya sama rekan pameran THE BLIXT PROJECT, Ong William Joe, mesti menuruni tebing berlumut nan licin. Saya sempat tergelincir dan kebetulan saat itu hujan. Berhubung belum naik keatas lagi, alhasil tebingnya tambah licin membuat saya merosot kebawah.

Memang kalau hujan jalan batuan disana jadi licin banget. Ong kebetulan yang foto dari atas tebing saat saya dibawah. Alhasil foto self-potrait ‘PLUTO’ terwujud.

Hasil foto kamu relatif gelap, keruh dan mendekati hitam putih. Apakah hal tersebut disengaja atau memang kamu menyukai hasil tersebut?


Saya sebenarnya suka hasil gelap seperti hasil jepretan kamera merek Lomo. Saya juga menyukai hasil foto yang berwarna black and white. Ada juga sebenarnya karya saya lebih explore, seperti karya tribut kepada Alan Rickman. Dimana hasilnya cerah dibandingkan hasil jepretan saya lainnya.

Apakah kamu ada projek dan hasil fotografi lainnya selain dari pameran THE BLIXT PROJECT?

Ada..saya waktu itu projek kolaborasi fotografi di ‘ISO100’ dan baru-baru ini menyelesaikan ‘PURITY’.

Selama ini kamu telah menelusuri fotografi sehingga menjadi ketua pameran THE BLIXT PROJECT. Apakah kamu ada pesan dan kesan saat menjalani itu semua?

Keluhnya susah menyatukan banyak kepala dan pembagian tugas yang cukup rumit. Saya juga terkadang harus mengoreksi diri sembari mengawasi semuanya berjalan. Terus pembangunan mental dan sikap juga menjadi salah satu tugas saya.

Disatu sisi fotografi membuat saya belajar banyak dan mendapat kenalan-kenalan baru selama proses belajar kurang lebih setahun. Selain terbuka, saya jadi fokus ke fotografi dari yang tidak mengerti sama sekali. Padahal dahulunya saya fokus menggambar dan melukis.

Sebenarnya karya menggambarku banyak di Lampung, saya juga dulunya sempat juara lukis di SD dan SMP.

Apakah kamu mungkin ada rencana untuk menggabungkan kedua hal itu?

Pingin, tapi dalam hal menggambar saya sudah kaku tidak seperti dulu. Mungkin sifatnya sekarang lebih ke kolaborasi artis.

Apakah kamu ada saran dan pesan buat yang memulai berkarya seperti dalam halnya di fotografi?

Menurut saya yang penting kukuhkan niat, terjun-lah secara penuh dan jangan setengah-setengah. Kalau memang sempat putus asa, ingat jauhnya jalan yang sudah dilewati dan berpikir kembali, ‘Yakin mau berhenti begitu saja dan kembali diawal?’ Dan kalau fotografi jangan terlalu mementingkan gear. Kamera apapun selama bisa eksplor pasti bisa membuat karya yang sama luar biasanya.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait