Tidak lama sekitar bulan April tahun ini, TIKAM rilis album perdana mereka berjudul “Jurnal Amarah” bertepatan dengan Record Store Day Surabaya. Dan baru saja mengadakan launching album mereka di Ruang Galeri M Radio 98.8, Jl. Ngagel Madya 15-15A, Surabaya pada tanggal 23 Juli 2017. Album mereka ini dirilis melalui label buatan mereka sendiri yaitu INSTING Creative Records. Seluruh tahap produksi dari awal hingga akhir dikerjakan oleh INSTING Creative Lab yang merupakan dapur produksi mereka sendiri.

Dengan isi lirik yang liar penuh kontraversi berbalut musik metal, TIKAM menyuguhkan sejumlah 14 trek, tiga diantaranya lagu instrumen, sembilan lagu menggunakan lirik bahasa indonesia, dan sisanya menggunakan lirik berbahasa Jawa. Berkat rilis video mereka berjudul ‘Tanda Tanya’, butuh dipertekankan bahwa materi-materi pada album ini tidak baik dikonsumsi oleh anak dibawah 18 tahun. Berkat ini mereka menjadi salah satu band yang cukup unik di Indonesia. Lagu-lagu hasil besutan Bayu Karna (vokal), Bima Kordes (gitar), Fajar A. (gitar), R. Wiryawan (drum), dan Cak Boker (bass) patut disimak.

Tidak lama, GOOGS wawancara dengan sang frontman yaitu Cak Boker berlaku bassis di band TIKAM. Apa arti filosofi dari nama ‘TIKAM’, pengunaan bahasa Jawa, kolaborasi antar musisi di Surabaya hingga proses penggarapan album ini yang mayoritas digarap sama personil TIKAM dijelaskan oleh Cak Boker (Ahmad Badaruzzaman).

Bagaimana cerita akhirnya kamu membentuk band ini begitu juga pemilihan namanya?

Sebelum akhirnya sama Tikam ini, saya bertualang ke beberapa band. Tetapi dari semua proyek yang saya jalani tersebut ternyata belum ada yang pas, sehingga semuanya harus bubar dan ada satu proyek yang hiatus. Singkat cerita. Membahas tentang band, itu lebih dari sekedar musik. Kalau membahas musik, otomatis kita membahas seni, kreativitas dan teknik. Tetapi kalau membahas band, kita akan lebih membahas ke struktur organisasi.

Video Official Footage Mangsa oleh TIKAM.

Tikam terbentuk di akhir tahun 2013 dimana saya bertemu dengan Mas Bayu (vokal) dan Kordes (gitar), saat mencari personil saya mengesampingkan hal seperti usia, skill, dan kondisi ekonomi. Yang saya cari adalah pribadi yang “militan”, agar band ini memiliki struktur organisasi yang jalan dengan semestinya.

Sedangkan untuk nama band ‘Tikam’, karena dari awal saya ingin membuat proyek yang liar dari lirik sampai musik; saya rasa filosofi Tikam sangat mewakili apa yang ingin kami ekspresikan lewat musik, “Serangan yang singkat namun mematikan”. Untuk menikam lawan, kita harus berada dalam jarak yang dekat dengan lawan kita. Tidak seperti pemanah yang menembak dari jauh, dia tidak merasakan kerasnya medan tempur.

“Jurnal Amarah”. Apa yang ingin kalian sampaikan di album ini ke khalayak umum?

Isinya tentang amarah, sesuai judulnya. Jadi album ini berisi tentang segala hal yang membuat kami kesal dan marah, mulai dari isu sosial sampai politik. Yang seru di album ini, sudut pandang bisa diarahkan dari pihak baik ataupun jahat. Bahkan ada dua lagu di album ini, kami jadi makhluk fiktif yang memberikan kekuatan untuk berkuasa.

Ada dua lagu di album ini menggunakan pemilihan lirik berbahasa Jawa. Mengapa demikian? 

Sebenarnya untuk pemilihan lirik berbahasa Jawa, saya juga tidak jago bahasa Jawa. Saya merasa malu tidak bisa berbahasa Jawa, padahal saya orang Jawa. Sedangkan band kami sering main ke daerah-daerah. Vokalis TIKAM justru yang jago banget. Kita memilih menggunakan bahasa tersebut ya harapannya sih agar bahasa Jawa ini juga dikenal oleh kalangan muda mudi perkotaan.

Bagaimana proses penggarapan album “Jurnal Amarah”?

Album “Jurnal Amarah” ini mengantar Kami ke level yang berbeda karena mayoritas kita produksi semuanya sendiri. Kita mengalami pengembangan diri dari tiap personil sampai musikalitas dan manajemen. Namun dalam proses pembuatan album ini kami mengganti dua posisi dalam formasi TIKAM yaitu drummer dan gitaris. Jadi ditengah-tengah proses album ini Kami mencari kedua personil baru untuk menduduki posisi tersebut.

Proses rekaman album TIKAM. Video oleh Wawan (R Wirayawan Surya Kusuma).

Begitu dapat, langsung rombak lagu dan mulai rekaman dari awal lagi. Konflik internal selama proses berlangsung tidak hanya terjadi pada personil, tapi juga team Kami seperti divisi video & teknisi gitar pun ikut berubah formasi. Serunya ya disitu, dramanya itu logh.. Haha..

Proses rekaman album TIKAM. Video oleh Wawan (R Wirayawan Surya Kusuma).

Perdebatan untuk menyelesaikan hal-hal teknis di dapur produksi, sampai perencanaan strateginya juga seru banget.

Musik kalian  fresh karena mengundang musisi-musisi yang cukup beda seperti salah satunya Hip-Hop sebagai fitur di lagu kalian. Apakah scene di Surabaya yang membuat kolaborasi hal ini terjadi?

Lagu “Tanpa Kata” itu featuring Fauzi Kojel, dia adalah gurunya gitaris-gitaris TIKAM. Terus kalau yang featuring dengan Gilang Amonra asal mulanya karena kami suka nyambung saat ngobrolin agama, kepercayaan dan budaya. Bisa sampai pagi kalau ngobrolin soal itu. Kalau lagu ‘kekal’ featuring bersama Eltikei dan Bonky, dua orang ini senior di scene Hiphop Surabaya. Sama seperti dua orang sebelumnya, awal pengennya featuring ya karena kami akrab.

Untuk scene disini memang begitu. Antar musisi tidak peduli genre apa, yang penting saling support. Disini mah pemandangan yang biasa anak Pop, Reggae dan Metal nongkrong bareng.

Videoklip “Tanda Tanya” kalian menyuguhkan hal yang jarang di belantika musik Indonesia. Bagaimana proses pembuatannya? Dan apakah menuai kontraversi setelah rilis?

Iya kami garap bertiga saja. saya, si Wawan (R Wirayawan Surya Kusuma) dan Doyok (Gitaris The Classhat).

Sedangkan kedua talent yang ada di videoklip “Tanda Tanya” adalah Doyok sendiri dan ada satu lagi teman saya. Proses sangat singkat, 5 hari shooting (1 harinya cuman sejam, setelah itu dilanjut besoknya karena sudah malam dan harus bangun pagi untuk kerja). Yang lama proses kreatif dan proses penulisannya, dalam seminggu kita harus nongkrong sampai 5 kali untuk memikirkan konsep dan nulisnya.

Sejauh ini tidak ada karena fitur batasan usia diaktifkan jadi anak dibawah umur tidak bisa lihat. Distribusi video juga terbatas karena linknya disebarkan dikalangan terdekat. Bahkan press release juga hanya saya sebarkan di media tertentu saja.

Apakah band lain di Surabaya melakukan hal sedemikian rupa?

Belum ada sih, yang bikin video seperti “Tanda Tanya” kayaknya cuma band TIKAM. Karena konten seperti ini juga bukan sesuatu yang umum terjadi di kalangan musik ekstrim, di luar negri juga cuman beberapa band saja yang mengangkat konten seperti ini.

Disamping rilis videoklip dan launching album. Apakah ada kejutan lain buat para pendengar TIKAM?

A post shared by TIKAM (@tikam_official) on

Kami masih banyak sekali kejutan bahkan agenda untuk produksi kedepannya. Videoklip musik saja masih kurang tiga. Video studio documentary saja belum begitu juga video playthrough. Kejutan dari kita masih banyak.

Sebenarnya beberapa produksi akan tertunda karena saya selagi merangkap sebagai manajer Fraud saat ini sedang mempersiapkan tur ke Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Otomatis saat saya di luar Kota maka proses produksi Tikam harus terhenti sementara.

Produksi Video kalian tidak asing. Apakah pernah membuat videoklip untuk band Surabaya Flowdown?

Flowdown kebetulan kami yang buat videoklipnya. Untuk video “Petarung Handal” team produksinya semua personil TIKAM, yang jadi cameraman si Wawan kemudian editing saya. Kalau lagu “Sisi Primitif” yang bikin si Wawan dan teman-temannya di luar TIKAM.

Dengan konten yang cukup kontraversi. Apa Goal kalian dalam bermusik?

Goal kami ingin menyalurkan passion dan menyebarluaskan pemikiran kami melalui musik yang disukai. Dan goal kedepannya adalah bagaimana caranya agar kami tidak berhenti ditengah jalan akibat tuntutan untuk bertahan hidup.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait