Dengan marak milenial seiring jaman dalam mencoba hal yang kian sudah terlewati, kini fotografi menggunakan kamera analog mendapat atensi khusus seiring jaman dan masih ada peminatnya. Sebagai salah satu sub kelas hobi yang mahal,  fotografi analog menjadi alternatif yang berbeda dengan mengharuskan para pengguna untuk lebih giat seperti dalam proses sebelum dan sesudah foto dari membeli film hingga mencetak klise. Tidak seperti digital fotografi yang langsung bisa lihat hasilnya, dan kapasitas penyimpanannya berupa data bukan seluloid.

Fotografi analog pun sendiri memiliki proses yang cukup rumit selain mengharuskan pengguna untuk giat mengingat tempat pencucian film tidak semarak dulu, mudah ditemui dimana-mana. Seperti tempo lalu, ada tukang cuci film keliling yang bisa menyulap gerobak menjadi kamar gelap instan. Pencucian film itu sendiri bahkan membutuhkan proses yang rumit, memerlukan waktu yang tepat, suhu yang diukur dan bahan yang sesuai. Tetapi seperti hobi pada umumnya, ketentuan tersebut bukanlah menjadi halangan dan bahkan mempunyai kesenangan tersendiri.

Salah satunya yang menyerukan hal ini adalah Yudha Fernanda berdomisili di Bogor.

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Yudha Fernanda sang pemilik akun instagram @kopimaji, sering unggah hasil foto moment-moment yang ia jepret menggunakan kamera-kamera analog baik di bogor atau kota lain.  Mengaku baru setaun serius menjalani kamera analog, Yudha Fernanda bercerita bagaimana mulai ia menekuni fotografi analog bersama GOOGS. Yuk simak wawancara bersamanya.

Bagimana kamu memulai untuk mencoba dan menggeluti fotografi analog?

Awalnya dari melihat foto-foto saya jaman dulu di album keluarga. Terus saya mulai mencoba cari tau tentang kamera analog. Saya telusuri tentang fotografi analog di web, lalu mencari komunitas yang ada di bogor lewat Instagram. Kenal lah namanya mas pildasi sebagai salah satu pendiri analog bogor. Dan saya diajak ikut gabung.

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Dari situ saya belajar banyak dari mas pildasi tentang kamera analog hingga cara pencucian film hitam putih. Begitu juga mengenal banyak jenis kamera analog dari tipe rangefinder, SLR, TLR, Medium Format, Large Format dan compaq/tustel. Kalau dalam mencoba kamera, Medium Format dan Large Format aja yang saya belum coba.

Kamera analog apa saja yang kamu gunakan?

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Kalau nikon fm2 itu saya dikasih pinjem karena mau mencoba SLR. Kalau yang saya punya itu Yashica GSN dan Pentax Spotmatic. Awalnya karena bentuk unik yashica maka saya beli. Saya juga penasaran rangefinder itu apa. Setelah ditelaah ternyata rangefinder itu viewfinder yang tidak bisa dilihat langsung ke lensanya.

Apakah kamu punya kamera digital?

Biasanya saya pake kamera hp untuk digital, soalnya kamera digital tidak punya. Walaupun diawal perkenalan fotografi menggunakan kamera digital sih.

Apakah kamu ada toko langganan  fotografi analog?

Kalau kamera saya beli dari bandung. Untuk film dari dulu sampai sekarang saya langganan sama socca_id, atau kang irfan yang kebetulan sedomisili dengan saya. Semalam baru aja mesen 3 roll.

Apakah kamu mencuci film kamu sendiri?

Untuk yang hitam putih saya cuci sendiri. Sedangkan yang berwarna saya proses via hipercatlab di Bandung melalui pengiriman macam JNE.

Apakah masih banyak lab untuk cuci film?

Sekarang sudah mulai banyak lagi lab-lab buat nyuci film. Seperti salah satunya ada soupnfilm, hicreativefive, rawalab, monofilmlab, dan salah satunya hipercatlab yg sering saya nyuci film color.

Ada kesan mencuci sendiri film dan mungkin tip and trips bagi yang mau cuci sendiri?

Dalam mencuci film menggunakan 3 bahan. Dan lumayan mahal untuk membeli bahan-bahanya terutama developer dan fixer. Kalau stopper ada alternatifnya yaitu pake cuka dicampur air saja.

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Developer dan fixer bisa dipakai 4 sampai 5 kali buat cuci. Jadi tidak dibuang tapi masukin lagi ke botol kalau sudah selesai nge-developed.

Berarti berapa film dalam sekali mencuci bisa diproses?

Tergantung kapasitas penampungan film/tank untuk kapasitas pencucian bisa sampai 8-10 film yang dicuci.

Berarti kamu punya kamar gelap khusus untuk cuci film?

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Tadinya mau menyediakan kamar gelap/darkroom tapi tidak ada tempat. Akhirnya pakai changing bag.

Sebagai alternatif darkroom; Apakah susah menggunakan changing bag?

Awalnya sih ribet pake changing bag, tetapi kalau udah tau tahapannya mudah kok.

Ada saran dalam penggunaan film?

Kalau untuk film, tergantung selera karena tiap film berbeda color tone-nya. Begitu juga film hitam putih pun berbeda highlight dan shadow-nya. Saya biasa pakai film Agfa Vista 200/400 dan Fuji C200 karena murah dan color tone-nya asik.

Menurutmu apa sih yang beda dengan fotografi digital dan analog?

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Bedanya, kalau pakai kamera analog kita benar-benar melukis cahaya. Original-nya sebuah fotografi melukiskan cahaya ke film seluloid. Dan kita diajarkan untuk bersabar dan tidak terburu-buru dalam jepret sebuah objek. Kalau kamera digital kita sudah dimanjakan dan dimudahkan.

Apakah kamera analog mahal buat yang ingin baru mau mencoba?

Lebih mahal kamera digital. Kamera analog murah dan terjangkau. Paling yang buat boros film saja.

Dengan peminat yang sudah ada; Apakah ada pertimbangan lain dalam menghadapi perbedaan digital dengan analog?

Kamera analog itu kan lebih duluan dibanding kamera digital yang sekarang. Tetapi karena zaman modern jadi lebih mudah, kamera dengan sistem analog jadi tertinggal. Memang masih banyak yang tertarik terhadap kamera analog, tetapi kurangnya pemahaman orang awam tentang kamera analog itulah yang membuatnya jadi kurang diminati.

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Jaman sekarang cenderung ingin yang mudah dan gampang, jadi menurut mereka yang kurang paham, kamera analog itu ribet, ketinggalan jaman dan tidak bisa langsung dilihat hasilnya.

Kira-kira supaya fotografi analog  bisa diminati dan lebih disukai. Apa yang harus dilakukan?

Dengan ikut komunitas. Peminat di kota bogor sendiri sih menurut saya lumayan, di analog bogor  aja itu ada 48 orang.

Biasanya melalukan apa saja aktivitasnya?

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on


Salah satunya dengan foto-foto bareng sembari mengunjungi tempat tertentu atau istilahnya hunting. Selain itu kumpul-kumpul dan bahas soal fotografi saat pertemuan. Beberapa bulan lalu sempat bedah buku.

Apakah komunitas analog bogor pameran juga?

Iya. komunitas analog bogor mengadakan pameran juga  dan ditentuin temanya.

Menurutmu apa sih yang penting dalam fotografi?

A post shared by Yuda Fernanda ZHI (@kopimaji) on

Moment sih yang cukup penting dalam fotografi menurut saya.

Ada saran dan pesan bagi yang baru mulai belajar fotografi analog?

Buat belajar yang penting pelajari segitiga emas dalam fotografi yaitu speed, aperture dan iso. Angle dan komposisi bisa dengan mudah dipelajari kalau sudah menguasai segitiga emas. Sedangkan untuk kamera mending belajar yang full manual seperti SLR karena compaq sudah otomatis/tersistem.

Untuk melukiskan gambar yang kita inginkan dan indah dalam fotografi itu bukan karena alatnya tapi  adalah fotografernya. Dan ‘jangan lupa Kokang’.

 


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait