Berangkat dari keinginan menyebarkan persamaan, persatuan dan perdamaian, Radioaktif memperkenalkan diri lewat single perdana mereka bertajuk “Surrender”. Radioaktif adalah band alternative rock pendatang baru yang berasal dari kota kembang, Bandung. Meski terbilang masih sangat belia, kiprah Radioaktif sudah cukup terdengar terutama di panggung musik rock dan juga beberapa kompetisi band Tanah Air.

Radioaktif sempat menjadi satu dari 4 finalis di ajang Guinness Amplify 2014. Kompetisi tersebut membawa mereka mendapatkan kesempatan mentoring dari produser papan atas dunia, Steve Lillywhite (5th Times Grammy Awards Winner Producer) yang dikenal pernah bekerja bersama U2, Chris Cornell, The Killers, 30 Seconds To Mars, Morrissey, The Rolling Stones, dll. Radioaktif juga menjadi 8 besar dalam Rockinbattle, Supermusic 2017. Hal ini membawa mereka masuk dalam upcoming album kompilasi Rockinbattle.

Pemilihan lagu “Surrender” sebagai single perdana Radioaktif juga bukan tanpa alasan. Band yang digawangi Tomy Budi S (vokal, gitar), Reza Prihade (gitar), Ryan Arman (gitar), Guggie Syarif (bass) dan Surya Libertian (drum) berpendapat bahwa “Surrender” adalah lagu mereka yang paling powerful dan intense.

“Kami menyuarakan isu yang saat ini terus berkembang di masyarakat dunia. Kami meminta agar memperkuat pondasi diri agar tidak terprovokatif ke jalan yang salah. Kira-kira seperti itu harapannya,” ujar Tomy yang juga merupakan penulis lirik “Surrender”.

Lagu “Surrender” ini diciptakan Tomy bersama Azhari Mukti, Ryan Arman dan Reza Prihade. Seiring berjalan waktu Radioaktif ternyata berkesempatan untuk bekerjasama dengan salah satu penyanyi rock kenamaan Indonesia, Ipang Lazuardi. Awalnya Radioaktif menawarkan beberapa lagu kepada Ipang. Ternyata lagu “Surrender” yang menjadi pilihan dari vokalis BIP dan Plastik itu. “Surrender” pun semakin menemukan “jiwanya” setelah mendapat sentuhan dari Ipang.

Keterlibatan Ipang di single ini sangat singkat yaitu hanya 2 hari untuk rekaman vokal dan syuting video klip. Seluruh vokal direkam di Green Studio, Jakarta. Kemudian disunting oleh Dede Kumala, sedangkan proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Panca Hartono di Studio 42, Bandung.

Pengerjaan video klip di kawasan Kemang, Jakarta Selatan di eksekusi oleh Bonde Risyan, sementara visual artwork video animasi dikerjakan I Made Ananta dan editing oleh Firman Zaenudin (Teenage Death Star) serta coloring oleh Dozzy.


MTRPHN

Tergerak dengan hal-hal baru ataupun lama sembari mencoba untuk cari tau dan menyimpan hal-hal yang bisa saja terlupakan adalah apa yang memotifasi dirinya untuk menerjang tembok keterbatasan.

Artikel-artikel terkait